POLA HIDUP SEHAT, SUATU IKHTIAR KEHIDUPAN

POLA HIDUP SEHAT, SUATU IKHTIAR KEHIDUPAN

Penulis  : ERWADI, SKM, M.Kes

 

 

  1. Pendahuluan

Setiap orang pasti mendambakan hidup dalam kondisi yang sehat. Hidup sehat adalah investasi yang berharga dalam kehidupan seseorang. Seseorang dapat menjalankan aktifitasnya sehari-hari jika tubuhnya dalam keadaan sehat sehingga mampu melakukan pergerakan yang akan dapat menunjang aktifitas fisik dan mental serta bebas dari kelemahan. Seseorang dengan tingkat kesehatan yang baik, kemungkinan mempunyai kesempatan yang lebih besar mengaktualisasikan dirinya di tengah masyarakat ataupun dalam lingkungan pekerjaannya. Berbeda halnya dengan seseorang dengan tingkat kesehatan yang kurang baik, kemungkinan akan mengalami banyak keterbatasan dalam mengaktualisasikan dirinya.

Masa pandemi Covid-19 ini, penjagaan terhadap kesehatan sangat penting sehingga terhindar dari kemungkinan tertular Covid-19, diantaranya adalah dengan penerapan pola hidup sehat. Pola hidup sehat yang berhubungan langsung dengan upaya pencegahan Covid-19 adalah mencuci tangan pakai sabun, memakai masker dan perilaku tidak merokok. Hal ini karena Cuci Tangan Pakai Sabun (CPTS) dan memakai masker merupakan cara pencegahan paling efektif dalam memutus mata rantai penularan Covid-19. Sedangkan kebiasaan merokok adalah faktor risiko komorbid Covid-19  sepeti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, kanker. Ironisnya, kesadaran masyarakat mengenai ketiga perilaku ini masih rendah.

Berkaitan dengan kondisi tersebut, data Riskesdas (2018) menyebutkan bahwa diantara penyebabnya adalah tingkat pengetahuan cuci tangan masyarakat Indonesia masih rendah, dan baru 17 % anak usia sekolah melakukan cuci tangan pakai sabun. Prevalensi perokok usia diatas 15 tahun mencapai 33,8 persen dan penduduk usia 10-18 tahun meningkat dari 7,2 persen di tahun 2013 menjadi 9,1 persen tahun 2018. Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021 melaporkan bahwa dalam masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) penggunaan masker 2 lapis di luar Jawa-Bali baru 37,2 persen.

Masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam penerapan pola hidup sehat, khususnya menyangkut kebiasaan mencuci tangan, memakai masker dan kebiasaan merokok sangat besar pengaruhnya terhadap upaya pencegahan dan  pengendalian Covid-19. Dibutuhkan ikhtiar setiap orang untuk tetap dalam kondisi yang sehat sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahuwata’ala.

  1. Pola Hidup Sehat

World Health Organization (WHO:2015) mendefenisikan sehat suatu kondisi sehat fisik, mental, sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit dan kelemahan. Kondisi ini akan bisa terjadi jika seseorang selalu memelihara tubuh agar selalu bugar, kuat dan terhindar dari ancaman sakit. Upaya pemeliharaan ini juga diartikan sebagai suatu aktifitas yang kreatif dan terus menerus karena sehat bukan keadaan yang menetap. Beberapa ahli kesehatan berpandangan bahwa aktifitas memelihara kesehatan akan terwujud dalam bentuk sikap dan perilaku.

Terdapat tiga perilaku kunci menyangkut kejadian Covid-19, yaitu kebiasaan mencuci tangan pakai sabun, kebiasaan memakai masker, dan perilaku tidak merokok. Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun dan kebiasaan memakai masker merupakan dua kebiasaan sederhana yang cukup mudah namun cukup sulit diinternalisasi menjadi kebiasaan yang menetap. Sedangkan merokok merupakan perilaku yang bersinggungan dengan komorbid bagi Covid-19.

  1. Kebiasaan Mencuci Tangan Pakai Sabun

Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) adalah salah satu kesehatan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari-jemari menggunakan air dan sabun sehingga menjadi bersih. Mencuci tangan pakai sabun jauh lebih efektif membunuh kuman, bakteri dan virus dibandingkan dengan mencuci tangan dengan air biasa. Sabun akan dapat dengan mudah menghancurkan memberan lipid Covid-19 dan membuat virus Covid-19 tidak aktif.

Tangan yang dicuci pakai sabun akan mengurangi risiko masuknya virus ke dalam tubuh. Tanpa disadari, kita sering menyentuh mata, hidung dan mulut sehingga dapat menyebabkan virus masuk ke dalam tubuh. Virus Covid-19 pada tangan yang tidak dicuci pakai sabun dapat berpindah ke benda permukaan yang sering disentuh seperti gagang pintu, permukaan meja, mainan anak-anak, HP sehingga menimbulkan risiko penyebaran virus ke diri sendiri ataupun orang lain melalui sentuhan tangan yang tidak dicuci pakai sabun.

  1. Memakai Masker

Risiko penularan Covid-19 terbesar terjadi melalui droplet (percikan) sekret produksi saluran pernafasan yang dapat menginfeksi manusia dengan masuknya droplet yang mengandung virus SARS-CoV-2 ke dalam tubuh. Upaya pembatasan penularan virus Covid-19, salah satunya dengan menghindari masuknya virus melalui pintu masuk mulut, hidung dan mata. Penggunaan masker dengan menutupi hidung dan mulut akan mengurangi risiko penularan virus Covid-19 terutama jika terjadi droplet sekret pernafasan oleh karena bersin dan batuk pada orang yang tubuhnya telah mengandung virus Covid-19.

Pentingnya memutus mata rantai penularan melalui penggunaan masker, bahkan bukan hanya untuk orang-orang yang sakit saja, orang yang sangat sehatpun harus tetap menggunakan masker sehingga dapat memproteksi diri jika terjadi droplet. Ketika orang yang terinfeksi berbicara, batuk, atau bersin, maka masker menjadi lapisan perlindungan tambahan, sehingga 70% kemungkinan akan dapat terhindar dari penularan apabila menggunakan masker dengan baik dan benar.

  1. Kebiasaan Merokok

Kebiasaan merokok merupakan kebiasaan menghisap asap rokok kemudian mengembuskannya dari mulut. Rokok dibuat berupa lintingan atau gulungan tembakau yang digulung atau dibungkus dengan kertas daun atau kulit jagung sebesar kelingking dengan panjang 8-10 cm, dihisap setelah dibakar ujungnya. Belakangan ini, kebiasaan merokok kemudian berkembang dengan rokok elektrik berupa penggunaan jenis penghantar nikotin elektrik (Vape) untuk mendapatkan efek sebagaimana pada rokok biasa. Terdapat 4000 jenis zat kimiawi berbahaya yang terdapat dalam rokok dan 400 diantaranya merupakan zat racun yang jika terakumulasi di dalam tubuh. Hampir semua organ besar di dalam tubuh  manusia dapat dirusak oleh nikotin (target organ) dan paling sering memicu kejadian kanker.

Rokok mengandung zat yang dapat menimbulkan ketagihan (adiksi) dan ketergantungan (defendency) bagi orang yang mengisapnya. Diantara perokok ada yang hanya sebagai perokok pasif dengan menghirup asap rokok yang dihembuskan oleh orang lain yang dikenal dengan istilah perokok pasif. Pada dasarnya sama berbahayanya dengan perokok aktif. Baik perokok aktif ataupun perokok pasif akan mempertinggi risiko gangguan kesehatan paru-paru, jantung, pangkreas, ginjal yang merupakan komorbid bagi Covid-19.

Disamping kerugian kesehatan, terdapat beberapa manfaat dari zat yang ada di dalam rokok. Diantaranya dapat menjadi stimulus bagi otak untuk bekerja melalui aktifitas neurotransmiter dopamin yang ada di dalam rokok yang sejatinya dapat dihasilkan secara normal dalam tubuh seseorang. Merokok juga dapat menghangatkan tubuh dalam kondisi cuaca yang dingin dan rokok juga dijadikan sebagai life style (gaya hidup) serta pembuktian jati diri seseorang.

  1. Pembahasan

Pada masa pandemi Covid-19 ini, penerapan pola hidup sehat sangat dibutuhkan untuk menjaga agar tubuh tetap dalam kondisi daya tahan tubuh yang baik, bugar dan terbebas dari penularan Covid-19. Kecenderungan penurunan kasus Covid-19 saat ini hendaklah disyukuri sebagai suatu nikmat yang besar disertai harapan sirnanya wabah virus Covid-19 ini dari kehidupan manusia. Namun demikian, kecenderungan tersebut hendaklah diantisipasi dengan melakukan berbagai upaya untuk menghilangkan sebab-sebab yang akan dapat mengakibatkan penularan dan penyebarannya muncul kembali.

Para ahli kesehatan berpendapat bahwa penyakit Covid-19 adalah penyakit yang menyerang saluran pernafasan dan menularkan melalui produk saluran pernafasan. Dr. Erlina Burhan, Ketua Pokja Infeksi Perhimpuna Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyebutkan bahwa tidak ada cara lain sebagai solusi untuk pencegahan penularan Covid-19 yang cenderung bermutasi kecuali dengan melakukan upaya preventif dan vaksinasi.

Upaya vaksinasi dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh seseorang terhadap virus Covid-19 sehingga sekalipun terinfeksi maka tidak menimbulkan gejala yang berat. Semakin banyak orang yang telah divaksinasi, secara komulatif akan dapat menumbuhkan herd imunity (kekebalan kelompok). Hal ini penting karena akan selalu ada diantara masyarakat dengan sebab tertentu tidak bisa divaksinasi. Sedangkan upaya preventif adalah upaya pembentukan sikap dan perilaku melalui penerapan pola hidup agar tetap sehat.

Melihat kepada aspek sikap dan perilaku yang akan dapat meningkatkan  penyebaran Covid-19, dapat dilihat dari 2 (dua) aspek, yaitu aspek kesehatan masyarakat dan aspek kehidupan islam.

  1. Aspek Kesehatan Masyarakat

Penularan virus Covid-19 sangat berkaitan dengan aspek kesehatan masyarakat yang berorientasi pada upaya promotif dan preventif penyakit. Hal ini sangat disadari oleh para ahli kesehatan. Pendekatan kesehatan perseorangan melalui upaya kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif tidak akan mampu menuntaskan permasalahan kejadian Covid-19. Banyaknya rumah sakit dibangun termasuk rumah sakit lapangan dan banyaknya biaya yang dikeluarkan, diyakini tidak akan akan signifikan dalam menyelesaikan permasalahan Covid-19. Hal ini telah menjadi kesadaran bersama di berbagai negara termasuk di Indonesia.

Pengalaman dalam menyelesaikan pandemi pada masa lalu seperti cacar, pes dan penyakit lainnya menunjukkan bahwa penerapan prinsip kesehatan masyarakat melalui  upaya proteksi diri dari setiap orang agar tidak tertular dari orang lain dan tidak menularkan pada yang lain efektif dalam menyelesakan kasus pandemi. Kondisi ini hanya dapat terjadi jika setiap orang mempunyai sikap dan perilaku pencegahan dan menjadi kebiasan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap dan perilaku kunci  untuk mencegah dirinya dan orang lain terbebas dari penularan Covid-19 menurut penulis adalah dengan sering mencuci tangan dengan baik dan benar, menggunakan masker sesuai dengan petunjuk penggunaanya dan tidak merokok. Ironisnya, kalau kita cermati dalam kehidupan masyarakat di sekitar kita, apa yang diharapkan oleh pemerintah untuk terbentuknya sikap dan perilaku memakai masker dan mencuci tangan serta tidak merokok sebagai perilaku yang diadopsi menjadi kebiasaan baru, masih jauh dari harapan.

Pada awal masa Covid-19, timbul geliat dan kesadaran bagi beberapa pihak untuk menyediakan sarana cuci tangan baik di fasilitas umum, perkantoran, sekolah, restoran dan lain sebagainya. Namun saat ini, yang kita lihat kebanyakan dari fasilitas tersebut tinggal hanya talang penampung air karena pada talang tersebut tidak lagi berisi air. Sarana tersebut sudah tidak dimanfaatkan dan cenderung tidak terpelihara lagi. Tinggal hanya sebagai hiasan dan pada suatu saat tinggal disingkirkan.

Demikian juga dengan memakai masker, orang yang memakai masker hanya dapat disaksikan pada kalangan tertentu, pekerja yang sedang bekerja di kantor ataupun pada acara-acara resmi. Selebihnya merasa risih dan bahkan enggan menggunakan masker. Sementara itu, covid belum berakhir. Setiap saat akan tetap menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat.

Rogers (1995) menjelaskan bahwa suatu sikap dan perilaku baru mamang tidak serta merta akan diadopsi oleh masyarakat sebagai suatu perilaku yang menetap.  Sikap dan perilaku yang diadopsi melalui penerapan aturan dan pemaksaan (coersif) cendrung hanya bersifat sementara dan akan kembali pada kebiasaan aslinya. Hal ini disebutkan juga oleh Notoatmojo (2007), bahwa ada dua upaya yang dilakukan untuk terjadinya proses perubahan perilaku di masyarakat. Pertama, dengan tekanan yaitu upaya yang dilakukan untuk mengubah perilaku masyarakat dengan cara-cara tekanan, paksaan (coership). Upaya ini dilakukan melalui penerapan undang-undang, peraturan-peraturan (low enforcement), instruksi, tekanan fisik, sangsi dan lain sebagainya. Pendekatan ini biasanya menimbulkan dampak yang lebih cepat terhadap terjadinya perubahan perilaku yang diharapkan. Namun, perilaku tersebut tidak berkesinambungan karena tidak disertai dengan pengetahuan dan kesadaran yang cukup mengenai tujuan perilaku tersebut.

Kedua, dengan pendidikan yaitu mengajak masyarakat untuk mengadopsi perilaku tertentu dengan cara persuasi, bujukan, imbalan, memberikan informasi, memberikan kesadaran melalui kegiatan promosi kesehatan. Jangka waktu yang dibutuhkan agar terjadi perubahan perilaku memang membutukan waktu yang relatif lama, tetapi perubahan perilaku yang telah diadopsi akan langggeng selama dalam kehidupan seseorang.

Rogers juga menyebutkan bahwa terdapat 5 (lima) tahapan yang harus dialami oleh seseorang dalam hidupnya agar dapat mengadopsi sikap dan perilaku menjadi suatu kebiasaan yang defenitif, yaitu 1). Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arah mengetahui objek perilaku terlebih dahulu. 2). Interest yaitu orang mulai tertarik kepada perilaku tertentu. 3) Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya perilaku tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap respon sudah lebih baik lagi. 4) Trial yaitu adanya keinginan mencoba suatu perilaku baru dalam hidupnya. 5) Adoption yaitu seseorang yang telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap suatu perilaku. Namun, menurut Rogers perubahan perilaku tidak mesti membutuhkan waktu yang sama dalam melewati tahap demi tahap tersebut.  

Adopsi perilaku baru  yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan lebih cepat dan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka akan berlangsung lama dan bersifat sementara. Terlepas dari kecepatan setiap orang melalui tahapan ini, maka seseorang akan dapat menjadikan sikap dan perilaku tertentu sebagai suatu kebiasaan hidup jika telah sampai pada tahapan  adoption. Pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang objek kebiasaan baru atau perilaku tertentu akan mempengaruhi kecenderungan bersikap masyarakat untuk menjadi prilaku yang diadopsi dalam kehidupannya.

Terbentuknya perilaku atau kebiasaan baru bahkan diperluas pemaknaannya oleh Lawrence Green (1980) dengan menyebutkan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu predisposing faktor, enabling factor dan reinforcing factor. Predisposing factor adalah faktor pengetahuan dan sikap yang menjadi dasar dan preferensi pribadi seseorang untuk berperilaku. Merupakan sifat bawaan seseorang yang berperan apakah akan mendukung atau justru menghambat bagi seseorang dalam berperilaku sebagaimana pendapat Rogers.

Enabling faktor adalah faktor pemungkin dari sisi karakteristik lingkungan dan ketersediaan sumber daya agar suatu perilaku dapat mendukung agar suatu perilaku dapat diterapkan seperti ketersediaan masker di pasaran, daya beli keluarga untuk memiliki masker dan lain sebagainya. Sedangkan Reinforcing factor adalah faktor penguat berupa ketersediaan undang-undang ataupun peraturan yang dikeluarkan oleh pengambil kebijakan di semua level kebijakan untuk mendukung upaya terbentuknya perubahan perilaku tertentu.

Demikian juga halnya dengan kebiasaan merokok. Menghilangkan keinginan merokok sebagai syarat seseorang berhenti dari perilaku merokok bukanlah perkara yang mudah. Seseorang yang telah menjadi perokok aktif, akan mencari segala macam cara dan dalih untuk tetap merokok. Bahkan, pada masa Covid ini tidak jarang didengar stigma yang menyatakan bahwa Covid-19 hanya terjadi pada orang yang tidak merokok. Ironi memang, ketika rokok berkontribusi pada terjadinya kasus-kasus berat Covid-19 dan sebagian besar diantaranya meninggal, plesetan mengenai rokok ini semakin menambah bentangan dan peta jalan yang harus dilalui untuk menuntaskan Covid-19.

Tidak mudah untuk mereduksi kebiasaan merokok menjadi perilaku tidak merokok yang didasari oleh pengetahuan akan manfaat dan kerugian serta kesadaran sehingga menjadi perilaku yang baru. Terlebih masalah merokok, tahapan kritis kegagalan bagi orang yang mencoba berhenti merokok dilihat dari tahapan versi Rogers adalah pada tahapan trial (mencoba). Mungkin beberapa orang akan sukses melalui tahapan awarness, interes dan evaluation, akan tetapi pada tahapan trail kebanyakan menjadi kegagalan berulang yang mengakibatkan seseorang tidak sampai pada mengadopsi perilaku tidak merokok sebagai perilaku baru yang menetap.

Terlebih-lebih jika dikaitkan dengan interaksi faktor lingkungan sebagaimana pendapat Green. Pengetahuan, sikap, tingkah laku dan keyakinan menjadi dasar motivasi bagi seseorang apakah akan menerapkan perilaku baru atau justru menolaknya. Ketersedianya sarana, alat akan memungkinkan bagi seseorang untuk menerapkan perilaku yang diinginkan serta didukung oleh komitmen dalam bentuk peraturan pada semua level kebijakan.

Jika saat ini, kondisi masyarakat saat ini belum dapat berperilaku memakai masker dan mencuci tangan pada setiap momen kehidupannya serta menghilangkan kebiasaan merokok, sesungguhnya adalah suatu tantangan bersama bagi profesional kesehatan masyarakat ataupun pelaku kebijakan di semua level kebijakan untuk kembali mencermati strategi yang telah diambil dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat dengan menjadikan kebiasaan memakai masker dan mencuci tangan sebagai perilaku yang terinternalisasi secara baik pada setiap orang. Pendekatan kolaboratif dengan masyarakat serta memanfaatkan kekuatan masyarakat bisa jadi menjadi pilihan ketika upaya-upaya penegakan aturan dan hukum tidak banyak berkesan di hati masyarakat.

  1. Aspek Islam

Bagi seorang muslim, mempertahankan pola hidup sehat adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap orang. Islam telah memberikan batasan yang jelas agar setiap orang menjaga kehidupan dengan menjaga kebersihan, mengonsumsi makanan yang halal lagi baik, agar tubuh selalu berada pada kondisi sehat dan daya tahan tubuh yang kuat. Sebaliknya, Islam juga memerintahkan agar menjauhi sikap dan perilaku yang akan dapat membahayakan diri sendiri sehingga jatuh ke dalam kebinasaan, seperti merokok, minum khamar dan lain sebagainya.

Hidup dalam kondisi yang sehat adalah suatu anugerah atau nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahuwata’ala kepada hambaNya yang Dia kehendaki. Kehidupan yang sehat akan memberikan kesempatan bagi seseorang untuk merealisaskan tujuan kehidupan itu sendiri, yaitu untuk beribadah kepadaNya. Oleh karena itu, setiap saat hendaklah hendaklan seorang muslim senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahuwata’ala agar diberi kesehatan dan dijauhkan dari marabahaya yang akan dapat mengancam kesehatan dirinya.

Islam diturunkan pada prinsipnya adalah untuk mencari kemaslahatan (kebaikan) dan menghindari kemudharatan (keburukan). Salah satu kaidah besar dalam fikih Islam berkaitan dengan hal tersebut adalah kaidah yang diambil dari Hadis Rasulullah Shollollohu’alaihiwassallam, yaitu kaidah “la dhororo wala dhiroro”. Artinya, “tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan”. Perbuatan yang dimaksudkan disini adalah perbuatan yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.

Menurut Ibnu Habib dalam Ahmad Sabiq (2009), menjelaskan bahwa lafadz “la dhiroro” adalah suatu perbuatan yang membahayakan diri sendiri sedangkan “la dhiroro” adalah perbuatan yang membahayakan orang lain. Segala sesuatu yang membahayakan harus dihilangkan sebagaimana makna hadist Rasulullah Shollollohu’alaihiwassallam bahwa seseorang muslim tidak dibolehkan berbuat sesuatu yang membahayakan. Al Khusyaini di dalam Ahmad Sabiq (2009) berkata bahwa “ ad dhororo” adalah sesuatu yang membahayakan yang engkau dapat mengambil manfaat tetapi membahayakan orang lain, sedangkan “ad dhiroro” adalah perbuatan (perilaku) yang engkau sendiri tidak bisa memetik manfaatnya, namun bisa membahayakan orang lain.

Hadis ini menunjukkan bahwa semua bentuk perbuatan yang membahayakan harus dihilangkan dan tidak boleh dikerjakan. Hal ini karena Rasululloh mengungkapkan dengan penafian, dan mencakup semua perbuatan yang membahayakan. (Al Wajiz hal 252).

Tidak diragukan lagi bahwa perilaku (perbuatan) mencuci tangan, memakai masker dan tidak merokok adalah tindakan preventif atau antisipasi jangan sampai ada sebuah bahaya yang akan dapat mengakibatkan kemudharatan bagi diri sendiri ataupun orang lain. Menghilangkan sesuatu yang membahayakan yaitu menghilangkan sebab kemudharatan terjadi. Penyebaran virus melalui benda-benda permukaan yang di mediasi oleh sentuhan tangan akan terhenti dengan selalu menjaga kebersihan tangan dengan sabun semampunya. Demikian juga halnya dengan penggunaan masker, jika kemaslahatan “silaturrahmi” secara langsung antara seorang muslim dengan muslim lainnya, maka mendahulukan menghilangkan kemudharatan untuk mencegah terjadinya droplet ketika bersin dan batuk adalah kewajiban yang harus dilakukan untuk menghindari bahaya pada diri sendiri dari orang lain dan dari diri kita pada orang lain.

Diantara penjabaran kaidah besar berdasarkan hadist Rasulullah Shollollohu’alaihiwassallam tersebut adalah, pertamaAd dhororu yudfa’u biqhodril imkan,” bahwa “ sesuatu yang membahayakan harus diantisipasi semampunya”. Jika ada upaya yang dilakukan agar bahaya itu tidak terjadi, maka itulah yang semestinya dilakukan. Jika tidak, maka harus dilakukan upaya semampunya walaupun menimbulkan bahaya yang lebih kecil. Hal ini memberikan suatu faedah untuk menggunakan segala cara yang memungkinkan demi sebuah tindakan preventif atau antisipasi jangan sampai ada sebuah bahaya yang akan datang, sebagaimana ungkapan yang masyhur “ menjaga itu lebih baik dari mengobati”.

Kedua, dar’ul mafasid ula min jalbil masholih, yaitu “menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan”. Jika berbenturan antara menghilangkan kemudharatan dengan sesuatu yang mendatangkan kemashlahatan, maka didahulukan menghilangkan kemudharatan.

Mengambil manfaat dari merokok agar terasa hangat di waktu cuaca dingin dan manfaat lainnya tentu tidak dengan membahakan orang-orang yang ada di sekitarnya dengan menjadikan mereka sebagai perokok pasif. Jika dibandingkan dengan bahayanya, jauh lebih besar baik bagi diri sendiri ataupun pada orang lain. Bahkan disebutkan oleh para ulama bahwa perilaku merokok termasuk perilaku yang menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. Allah Subhanahuwata’ala melarang dari perbuatan (perilaku) yang mengakibatkan seseorang terjatuh ke dalam kebinasaan. Allah Subhanahuwata’ala berfirman, “ Wala tulqu biaidikum ilattahlukah,” (Al Baqarah ayat 195). Artinya, “jangan kamu jatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan”. Wallohua’lam

  1. Kesimpulan
  1. Perilaku hidup sehat yang menetap hanya akan terjadi jika proses pembentukan perilaku melalui tahapannya dapat dilalui dengan baik, didasari oleh pengetahuan dan kesadaran serta adanya dukungan faktor lingkungan.
  2. Harapan pendekatan kolaboratif pemberdayaan masyarakat dan keislaman menjadi strategi penerapan pola hidup sehat baru di masyarakat untuk mempromosikan CPTS, memakai masker dan perilaku tidak merokok.
  1. Saran

Strategi pelibatan masyarakat dapat menjadi pilihan ketika upaya penerapan aturan dan pemaksaan (coersif) belum sepenuhnya berhasil membentuk perilaku hidup sehat di masyarakat.