STIGMA DAN DISKRIMINATIF ORANG DENGAN MASALAH KESEHATAN JIWA

STIGMA DAN DISKRIMINATIF

ORANG DENGAN MASALAH KESEHATAN JIWA

Penulis : ERWADI, SKM, M.Kes

 

 

  1. Pendahuluan

Masalah kesehatan jiwa menjadi masalah kesehatan yang belum terselesaikan di tengah-tengah masyarakat. Terlebih di masa pandemi COVID-19 ini, permasalahan kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018, diperkirakan 20% dari 250 juta populasi Indonesia berpotensi mengalami masalah kesehatan jiwa. Data survey tahun 2020, sekitar 32,6-45% penduduk yang terpapar COVID 19 mengalami gangguan depresi. Sementara itu, bagi para penyintas Covid, sekitar 10,5-26,8% juga mengalami gangguan depresi. Selama pandemi lebih dari 60% mengalami gejala ansietas dan lebih dari 70% dengan gangguan stres pasca trauma.

Masa pandemi Covid-19 ini, disertai dengan berbagai situasi yang menambah tingkat stres banyak orang, sekitar 75-95 persen orang dengan gangguan jiwa di negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak dapat mengakses layanan kesehatan jiwa. Kejadian pandemi Covid-19 telah berdampak pada kesehatan masyarakat, baik pada para tenaga kesehatan, pelajar, orang yang tinggal sendiri, dan mereka yang memiliki masalah kesehatan jiwa yang sudah ada sebelumnya. Beberapa studi menunjukkan adanya peningkatan kasus depresi dan ansietas. Sementara itu, masalah sumber daya manusia profesional tenaga kesehatan jiwa masih sangat kurang sehingga banyak diantara masyarakat yang mengalami gangguan jiwa tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya.

Ironisnya, masalah kesehatan jiwa masih dihadapkan pada permasalahan rendahnya kesadaran dan kepedulian terhadap Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) ataupun Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Kondisi ini melahirkan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan permasalahan kesehatan jiwa di masyarakat. Rendahnya kesadaran dan kepedulian masyarakat pada akhirnya bermanifestasi pada rendahnya investasi pada upaya kesehatan jiwa yang melahirkan kesenjangan pemenuhan layanan kesehataan jiwa. Bahkan, stigma dan diskriminasi tersebut bukan hanya berdampak pada kondisi kesehatan orang dengan permasalahan kejiwaan, tetapi juga pada keluarganya seperti kurangnya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan.

  1. Kesehatan Jiwa

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. (UU Nomor 14 tahun 2014).

Setiap orang memiliki saat-saat sedih, stres, ketakutan serta permasalahan kesehatan jiwa lainnya. Sebagian besar orang yang mengalaminya mungkin dapat menghilangkan masalah tersebut.  Seseorang dengan kesehatan jiwa yang baik, maka akan dapat memanfaatkan potensi diri sebaik mungkin, menghadapi hidup, berperan penuh dalam keluarga, tempat kerja, komunitas, dan di masyarakat, sehingga tidak berkembang menjadi masalah kejiwaan. Namun, terkadang kondisi kesiapan jiwa (mental) seseorang tidak dalam kondisi perasaan yang terbaik, sehingga permasalahan yang dialami berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Hal ini dapat menimpa siapa saja karena kondisi dan situasi mental yang berbeda.

Mungkin ada yang dapat bangkit lagi dari keterpurukan dan kemunduran, sementara orang lain mungkin merasa terbebani dan sulit melaluinya. Pastinya, kesehatan jiwa tidak akan selalu sama pada setiap orang dan pada waktu yang berbeda, karena kesehatan jiwa akan dapat berubah  seiring peristiwa yang dialami oleh seseorang dalam hidupnya.

Masalah kejiawaan bermula dari kekhawatiran yang dialami oleh seseorang dari kehidupan sehari-hari dan dapat berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Diantaranya,  ada yang mendapatkan bantuan sejak dini saat mengalami masalah kesehatan jiwa, namun sebagian yang lain tidak mendapatkan kesempatan tersebut. Bahkan, orang dengan penyintas masalah kesehatan jiwa, mereka dapat mengatasi masalah mereka dengan belajar untuk hidup dengan isyu kesehatan jiwa yang menyertainya. Stigma dan diskrimanasi dalam penanganan dan pelayanan kesehatan jiwa baik pada orang dengan masalah kejiawaan ataupun pada orang dengan masalah gangguan jiwa sangat mempengaruhi kemampuan untuk mengatasi masalah kesehatan jiwa yang mereka alami.

Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) adalah individu yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa. Sedangkan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) adalah individu yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia. Jelasnya, ODMK ataupun ODGJ adalah orang yang perlu ditolong, diobati, dan dijauhkan dari stigma yang melekat pada mereka.

Secara umum, masalah kejiwaan dan gangguan jiwa dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  • Self Harm

Self harm adalah tindakan seseorang menyakiti diri sendiri dengan sengaja. Kecenderungan melukai diri sendiri dapat disebabkan oleh perasaan buruk yang secara terus menerus dialami atau berlebihan. Kemudian, mereka melakukan pelarian dengan cara menyakiti diri sendiri untuk mengatasi masalahnya.

  • Kecemasan

Kecemasan adalah gangguan kesehatan jiwa yang ditandai dengan perasaan tidak nyaman, khawatir atau takut. Setiap orang terkadang merasa cemas, dan kecemasan ini dapat menjadi masalah kesehatan jiwa jika perasaan tersebut sangat kuat atau bertahan lama. Diperkirakan lebih dari satu orang di antara 20 dari kita memiliki gangguan kecemasan.

  • Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD)

ADHD adalah suatu kondisi yang mempengaruhi perilaku orang. Orang dengan ADHD bisa tampak gelisah, impulsif, dan memiliki masalah dalam berkonsentrasi. Selain itu, mereka juga menunjukkan sikap yang cenderung hiperaktif (banyak tingkah).

  • Anoreksia nervosa

Anoreksia nervosa gangguan kesehatan dengan selalu mencoba menjaga berat badan serendah mungkin. Manifestasinya, mereka dapat melakukan tindakan seperti tidak makan dengan cukup, berolahraga terlalu banyak, dan tindakan ekstrim lainnya.

  • Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar adalah masalah kesehatan jiwa yang mempengaruhi suasana hati seseorang. Terjadi ketika seseorang yang mengalami titik tertinggi dari emosi tertentu kemudian mengalami penurunan emosi menuju titik terendah secara ekstrem.

  • Gangguan Stres Pascatrauma  

Gangguan stres pasca trauma atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) adalah suatu kondisi yang dapat berkembang setelah seseorang mengalami peristiwa yang sangat menegangkan dan traumatis. Orang yang mengalami PTSD mungkin memiliki gejala seperti kilas balik atau serangan panik.

  • Demensia

Demensia adalah gangguan kesehatan jiwa yang biasanya dialami oleh orang yang lanjut usia. Manifestasinya berupa hilangnya ingatan dari hal-hal yang pernah dilalui dalam hidupnya. Disamping itu, demensia juga dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, berbicara, dan berperilaku.

  • Depresi

Gangguan depresi adalah perasaan sedih dan putus asa yang dapat dialami oleh semua orang. Bahkan, bisa lebih dari sekadar perasaan sedih, tetapi juga menyebabkan suasana hati menjadi buruk dan berlangsung lama. Gangguan ini dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang.

  • Serangan panik (Panic Attack)

Serangan panik adalah perasaan takut yang tiba-tiba dan intens. Serangan panik akan datang dengan cepat dan tanpa alasan yang jelas. Serangan panik bisa sangat menakutkan, namun tidak berbahaya.

 

  • Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan jiwa yang sudah parah. Para pengidapnya mengalami “distorsi” dalam pikiran, yang memengaruhi persepsi, emosi, bahasa, rasa dan perilaku. Oleh karena itu, orang yang mengalami skizoprenia sering mengalami halusinasi (mendengar, melihat, atau merasakan hal-hal yang tidak ada) dan berdelusi. Orang dengan skizofrenia berisiko mendapatkan stigma buruk dan diskriminasi dari masyarakat, sehingga untuk mendapatkan penanganan dan pengobatan jangka panjang yang tepat, dibutuhkan dukungan sosial dari lingkungan sekitarnya.

  1. Pembahasan

Semua orang berhak mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas, baik layanan kesehatan fisik ataupun jiwa. Disadari bahwa pandemi Covid-19 ini telah memberikan dampak yang cukup masif pada semua orang dan mengakibatkan keterbatasan dan pembatasan dari yang seharusnya dilakukan. Namun, pada saat pemerintah dan masyarakat masih berjuang mengendalikan penyebaran virus COVID-19, pada saat yang sama juga menyebar perasaan kecemasan, ketakutan, tekanan jiwa akibat dari isolasi, pembatasan jarak fisik dan hubungan sosial, serta ketidakpastian. Kondisi ini telah mamicu peningkatan masalah kejiwaan dan gangguan kesehatan jiwa di masyarakat.

Mencermati hal tersebut, upaya penjagaan kesehatan jiwa masyarakat, baik melalui kegiatan di komunitas dan atau di fasilitas pelayanan kesehatan menjadi sangat penting. Upaya ini dimaksudkan untuk memberikan layanan dan pendampingan bagi masyarakat yang mengalami masalah kesehatan jiwa, sehingga setiap orang dengan masalah kejiwaan mendapatkan akses layanan yang setara tanpa diskriminasi. Demikian juga dengan upaya edukasi, perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk merespon isu-isu kesehatan jiwa serta mendorong adanya solusi bagi upaya pencegahan dan pengendalian masalah kesehatan jiwa tanpa terbebani dengan stigma yang masih melekat di hati sebagian orang bahwa orang yang dibantu adalah orang yang “miring”, “sinting”, “gila”, dan sebutan lainnya. Strategi untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat akan pentingnya isu-isu kesehatan jiwa diharapkan sekaligus dapat mendorong peran berbagai tenaga profesional jiwa serta mendorong semua mitra kerja dan komunitas kesehatan jiwa untuk melakukan inovasi yang terintegrasi untuk meningkatkan upaya kesehatan jiwa di masyarakat. Hal ini akan menjadi bentuk upaya bersama dari berbagai pihak untuk berpartisipasi dalam penanganan masalah kesehatan jiwa.

Fasilitasi kesehatan jiwa hendaklah menjadi fokus perhatian, yaitu dengan menyediakan berbagai sarana dan prasarana terkait kesehatan jiwa di berbagai institusi yang terlibat dalam penanganan masalah kejiwaan. Komunikasi strategis perlu dirancang dan dikembangkan untuk menghasilkan dukungan sosial terjadinya perubahan nilai dan perilaku tentang kesehatan jiwa di masyarakat. Dukungan sosial melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat diharapkan menghasilkan sinergi kolaboratif dengan upaya pemerintah menciptakan opini untuk terciptanya lingkungan sosial yang mendorong setiap individu di masyarakat sadar dan peduli terhadap orang-orang dengan masalah kejiwaan di sekitarnya.

Semangat ini seiring dengan tema peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) yang jatuh pada 10 Oktober 2021 tahun ini, yaitu “Mental Health in An Unequal World’' dengan subtema nasional di Indonesia “Kesetaraan Dalam Kesehatan Jiwa Untuk Semua”. Tema ini diangkat dengan tujuan meningkatkan kesadaran tentang isu-isu kesehatan jiwa di seluruh dunia dan memobilisasi upaya dalam mendukung kesehatan jiwa di berbagai negara. Momentum hari kesehatan jiwa sedunia ini, disadari bahwa perlu ada upaya komunikasi, edukasi kepada masyarakat agar dapat menghilangkan stigma dan diskriminasi serta pemenuhan hak asasi manusia kepada orang dengan permasalahan kesehatan jiwa.

Seiring dengan situasi masalah kesehatan jiwa yang semakin mengkhawatirkan pada masa pandemi Covid-19 ini, hendaklah mendorong semua pihak, baik masyarakat., pemerintah, tenaga profesional kesehatan jiwa serta komunitas kesehatan jiwa memastikan bahwa kesehatan jiwa lebih diprioritaskan dari sebelumnya. Pelaksanaan kegiatan penanganan kesehatan jiwa di berbagai jenjang administrasi pelayanan perlu merespon perubahan situasi dan kondisi dengan tetap berorientasi pada kepentingan kesehatan masyarakat.  Terlebih-lebih saat ini, pemecahan masalah kesehatan jiwa, memerlukan dukungan dan kebutuhan sumber daya (dana, tenaga, sarana, dll) yang lebih besar.

  1. Kesimpulan
  1. Strategi pemberdayaan masyarakat diharapkan mendorong terciptanya sinergitas antara kebijakan pemerintah dalam penanganan masalah kejiwaan dengan pelibatan masyarakat dalam menumbuhkan kepedulian terhadap orang dengan masalah kejiwaan.
  2. Pada masa pandemi Covid ini, masyarakat diminta untuk dapat menjaga kesehatan diri dan tetap patuh dan disiplin dengan protokol kesehatan agar tidak tertular COVID-19, serta selalu menjaga kesehatan jiwa dengan mengelola stress dengan baik, menciptakan suasana yang aman, nyaman bagi seluruh anggota keluarga.
  3. Pemenuhan akses layanan orang dengan masalah kejiwaan hendaklah terselenggara tanpa diskriminasi sebagai prasyarat kesetaraan pelayanan bagi seluruh masyarakat.
  1. Saran

Dibutuhkan dukungan dan peran semua pihak termasuk peran media untuk memberikan informasi berimbang terkait masalah kesehatan jiwa sehingga dengan pemberitaan tersebut diharapkan dapat mengurangi stigma dan menumbuhkan komitmen bersama untuk peduli terhadap orang dengan masalah kejiwaan.